Bias Dalam Abu

Standard

Dalam diri kita menatap, menjurus pada waktu. Dalam waktu kita bermenung, melongok pada potret yang bergulir. Dalam potret kita mengulas, mencari memori dalam akal. Dalam akal kita bertengkar, menunjuk pada apa yang terasa, benar.

Tapi, apakah pembenaran itu dapat memuaskanmu? Pembenaran yang hanya dilihat melalui matamu. Pembenaran yang ingin dilihat begitu adanya. Pembenaran yang berbias dengan peristiwa.

Jika sudah ada benar, akankah ada salah? Bagaimana jika salah itu tak diciptakan, bagaimana jika salah itu hanya khayalan akan kebenaran belaka. Jika salah tak pernah ada, lantas mengapa ada benar? Mengapa tak kita telusuri apa yang membuat pertentangan dua ada. Mengapa tak mencoba menarik sisi abu?

Mungkin mengapa terlalu berat. Hingga kita hilang kata dalam jawab. Atau mungkin kata itu telah terdesain dengan sendirinya, tanpa perlu campur atas kita. Atau mungkin sebaiknya kita berhenti bertanya, dan melihat lebih dalam, sosok abu itu.

Namun, terkadang kita menyerah pada kata. Pada apa sesuatu di balik abu. Pada hikayat yang lebih dalam.

Pada akhirnya, semua dapat memilih. Baik benar atau salah. Pada akhirnya, semua itu hanyalah kata, yang dapat menjadi makna bila langkah tercipta.

Pada akhirnya kita yang merangkum dan bercerita, tentang kata dalam hitam dan putih.

Advertisements

Suatu senja dikala itu

Standard
Suatu senja dipinggir suatu tempat.”Hai”.ia menyapa.”Hai”.ia menyapa lagi.”Hai”.untuk ketiga kalinya ia menyapa.”Baiklah,aku nampak mengganggumu.maaf.tapi bolehkan aku sekedar nememanimu bermenung disini?”.aku hanya mengangguk.kami menikmati senja dalam diam.menatap mentari dilahap sang laut.mendengar kicau belibis di seberang.”Boleh kutau siapa namamu?”.”…….”.aku hanya terdiam.”Aku akan terus menemanimu”.

Keesokan harinya,di senja yg sama.senja yg tak pernah membosankan,walau tetap dengan nuansa yg sama,dengan detil yg sama.ia datang.aku tetap diam.kali ini ia hanya diam menemaniku bermenung hingga mentari berganti rembulan.

Waktu pun bergulir,tak terasa.aku tetap di senja yg sama.ia tetap disampingku.kami menikmati senja kami bersama,tanpa kata.”Kau tau,aku sudah mengetahui siapa namamu”.diam,hingga rembulan menggantikan mentari.

Malam,aku kembali menyusuri pantai.menikmati belaian angin laut,dan aku merindunya.ya.aku merindunya.ingin ku ungkap semua kataku.semua hasratku.betapa ku selalu tak sabar menanti senja,agar ku dapat sekali lagi bersamamu.aku tak bersua.tapi kuingin kau dapat mengerti isi hatiku.oh napas laut,hembusakanlah suara cintaku padanya..

Senja yg sama,tapi tanpanya.oh mentari,beritahu aku dimana dia.telah kusiapkan goresan hatiku untuknya.senja berganti malam,ia tak kunjung datang.aku hanya terpaku pada laut.

Waktu kembali bergulir.aku tak berada di senja yg sama.aku tak ingin senja tanpa dirinya.aku berada di malam yg kelam. Anginkah ini?tapi mengapa terasa begitu nyata,dan hangat.mentari pagi telah menyapaku.aku tak ingin terbangun,ingin terus bermimpi akan dirinya.angin terasa semakin jelas.apakah angin mulai dapat mengecupku?ku buka mata perlahan.kosong.aku hanya bermimpi.terseok ku berjalan.sayup terdengar laut memanggilku,pikirku.aku menghampirinya.membiarkan tubuhku di dekapnya.

Senja yg sama,tanpa dirinya.ku termenung.mematikan inderaku.tanpa rasa.”Hai”.aku pasti bermimpi.”Hai”.aku pasti sudah gila.”Hai senja”.aku pasti ada di surga.aku menoleh.seutas senyum yg kurindu.sangat kurindu.”Aku rasa aku sudah gila”.”Maka kita akan gila bersama.aku akan menemanimu”.”Tapi kau pergi”.”Maaf,karena aku tak tahan ingin merengkuhmu”.”Mengapa kau baru kembali sekarang?kau tau,aku sangat merindumu”.ia membelai wajahku dan mendekapku.hangat.seperti mimpiku,tapi kini ia nyata.”Kita akan menikmati senja kita,bersama”.bisiknya padaku,dan aku mengangguk menerima kecupan manisnya.

salahkah jika itu benar

Standard

salah, benar, salah, benar.. semua hal yang telah terjadi, semua hal yang terulang. dapatkah hati berbuat salah? dapatkah keadaan berbuat salah? ataukah logika yang memicu salah?

salah, salah, salah.. tak ada yang benar-benar salah, namun tak ada pula yang begitu benar. saat kau merenung akan suatu peristiwa, saat kau tak tahu apa yang hendak terucap karena semua tersangkut di bibirmu. saat banyak kata memenuhi pikiranmu, saat kau tak mengerti apa yang tengah terjadi. saat akhir bagimu akan suatu kisah di halaman selanjutnya.

andai ku dapat mencurahkan segala isi hati, mencoba mendekap keadaan yang terkadang tak berpihak. andai ku dapat berbuat lebih, andai ku dapat berkata tegas. namun yang terucap hanyalah titik-titik yang tak kau mengerti maknanya. akankah maaf menjadi begitu berarti? entahlah.. bisa saja benar,bisa saja salah.

aku tak ingin semua disalah artikan, aku tak ingin kau berasumsi akanku. aku hanyalah aku, beserta beribu salahku, beserta beribu kekuranganku. saat aku tahu apa yang kuingin, saat aku telah lama mengetahui hal itu.

dapatkah kau mengerti pahamku? dapatkah kau rasakan bayangku? sudikah kau terusik akan sekelebatku di pikirmu? aku tahu, kata salah tak pernah menjadi begitu salah dan benar tak selalu benar. aku ingin kau mengerti, tapi sudahlah, tak perlu, sungguh. biarkan ini tetap dalam pikirku. biarkan semua berjalan, pada jalan kecil yang telah tercipta. hingga entah satu waktu, keadaan akan mengerti, dimana salah memang salah, dan benar memang benar.

Di Tetes Ujung Jalan

Standard

Tes, tes, tes, tes, tes.. Rintik hujan ini menemani pagiku, di sebuah cafe di pojok jalan sana. Aku hanya termangu sembari merangkul bayangku. Menikmati waktuku, dengan ditemani sang rintik. Satu tempat di pojok sana, favoritku. Terdengar sayup-sayup alunan lagu dalam lamunku.

Entah mengapa kuhabiskan waktuku disini. Bercerita pada cangkir yang menyentuh bibirku, pada catatan dimana jariku menari. Mencari sejentik terang dalam pikirku.

Hari berlari tak kenal siapa. Aku terdiam dengan jari diatas catatanku. Bosan, aku memutuskan untuk beranjak. Meniti jalan kosong tk terasa lalu lalangnya orang sekitar. Lalu tepat disana, mataku tertumbuk pada satu titik. Ku kedipkan tak percaya, dan secepat itu pula titik itu hilang.

Kecewa? Tidak. Aku berlalu seperti titik itu berlalu. Halusinasi bisik mataku.

Suatu hari di suatu minggu. Hari-hariku meniti jalan kembali. Aku menegakkan kepalaku, menatap langit, menikmati belaian sayup udara. Udara yang pernah tak kusentuh untuk beberapa lama. Udara yang terasa sama.

Di ujung jalan itu, langkahku menghentikan langkahnya. “Apa kabar?”, kau ucapkan kata itu. “Tak sopan”, jawabku. “Mengapa?”. “Kau jahat”. “Maaf”. Dan aku berlalu sembari kau berkata.

Berselang waktu berlari, kembali. Kakiku melangkah sendiri, ke suatu tempat di suatu waktu itu. Termangu dan terdiam disana. “Hai, kau disini?”. Entah, nampak hatiku telah berkomplot dengan kakiku”. “Aku, maaf, telah membuat mereka berkomplot”. “Kau jahat, membuat mereka berkomplot. Membuatku berkomplot dengan sang hari”.

Kau terdiam, aku termenung. Kau menarikku dan aku membiarkan tertarik olehmu. “Mengapa,begitu lama bagimu untuk ini? Mengapa kau kembali setelah aku dapat berlari tanpa pedulimu?”. “…”

Tetes pertama, hening

Tetes kedua, menghancurkanmu

Tetes ketiga, melemahkanmu

Tetes selanjutnya, meluluhkanmu

Mata Angin

Standard

Lilin kecil meredup menatap bayangnya. Bingung mencari penerang yang membakar dirinya. Kabut menutupi terangnya, dan hembusan angin seakan mengguncangnya. Lilin itu bertanya pada dirinya, tentang apa yang menyesak sumbunya. Tentang apa yang menjadi pertentangannya. Tentang apa rasanya.

Ia melihat waktunya, ia melihat redup cahayanya. Pertanda semakin dekat ia berkata. Tapi, bagaimana mungkin ia dapat mati perlahan, jika angin saja selalu mengintainya cepat. Lilin mencari cara, menutup celah-celahnya. Namun angin selalu bisa melaluinya, angin tahu dimana harus bersinggung, dimana harus menghempas. Angin tahu dimana letak sumbu lilin kecil.

Sampai saatnya tiba, lilin kecil bersedih, lilin kecil menjadi temaram. Saat angin datang dan hendak mengguncangnya, ia berkata, “aku tak mengusikmu, aku pun tak mengganggu jalanmu, tapi mengapa kau seakan benci padaku hingga selalu ingin mematikan aku?”. “Terkadang aku hanya ingin tahu, sampai dimana kau mampu bertahan”. “Apa maksudmu? Tidakkah aku menerangimu? Ataukah aku hanya menyilaukanmu?”, lilin kecil semakin sedih, tak mngerti akan tiupan angin.

“Aku hanya ingin menerangi sekelilingku. Aku tak pernah ingin menyakiti siapapun dengan sinar ini. Bahkan aku hanya ingin hidup dan cerah tersungging di sumbuku. Aku sesak, aku takut acap kau datang. Aku tak menolak kedatanganmu, hanya saja, mengapa kau berbuat itu padaku?”.

Ia hanya membisu. Ia semakin membuatku sesak. “Aku, bahkan tak ingin membuatmu padam. Aku hanya begitu gembira melihatmu tersenyum. Aku menyongsongmu untuk menyapa, namun, sepertinya langkahku yang demikian membuatmu takut. Kau tahu, aku melihatmu dari kejauhan”.

“Tapi kau selalu hampir membuatku padam. Kau menakutiku”.

“Begitu? Gerakku membuatmu terancam hilang. Gerakku untuk menujumu membuatmu takut. Padahal aku hanya ingin menyapa, hanya ingin merangkulmu”.

“Benarkah?”

“Ya”, angin pun menjawab. “Hanya itu yang terbersit olehku. Napasku yang memburu karena ingin mendekatmu”.

Hanya ada keheningan diantara mereka. Hanya ada sumbu yang menjawab. “Kalian dapat saling menjaga satu sama lain. Tanpa saling bersua”.

Semakin tajam hampa mengisi, semakin dalam hening menguak. “Kalian tahu, kalian ditakdirkan untuk saling menjaga dari kejauhan. Agar tak ada yang mengusik cahaya sang lilin, kau harus menjuruskan matamu ke sekelilingnya. Kau halau mereka yang menjerat terangnya. Lalu, agar sang angin dapat menebas pandang dengan tepat, kau terangi matanya. Menjaganya dari kegelapan malam dan memberi cercah pada kelutnya”.

“…..”

“…..”

“…..”

“Ia benar, lilin membuka mulut. Kita tak akan bisa menyapa dari jarak yang kasat”. “Dan kau takkan dapat merangkulku dari dekat”.

Sejak saat itu mereka mengerti, dan saling menjaga dari titik yang hilang. Mereka paham akan hadirnya masing-masing. Mereka tersenyum dari kejauhan, dan mereka tahu mereka saling membutuhkan.

Itulah saat mereka benar-benar bersama, itulah mata angin.

dan airpun mengeras

Standard

rembulan pun bagai guntingan kertas yang telah usang

seusang itulah rasa yang mengendap

mengarat hingga mengikis

hingga duga pun terbit

mengembalikan apa yang telah menimbun

akan kilasan masa itu

mendongak, tak lagi kenal takut

air pun mengeras

tak peduli dengan teriknya mentari

tak peduli dengan tatapan ilalang

tak peduli dengan mulut-mulut kecil bercuap